beritaKUH- Transisi hijau di Asia Tenggara dinilai membutuhkan lebih dari sekadar kendaraan ramah lingkungan. Ketersediaan infrastruktur pengisian daya, pembiayaan, layanan purnajual, hingga perencanaan kota yang terintegrasi menjadi faktor penting untuk memperluas penggunaan kendaraan listrik.

Ekonom Indonesia Josua Pardede menilai, kepentingan komersial dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan jika investasi mampu menghadirkan solusi yang praktis dan terjangkau bagi masyarakat.
Pendekatan tersebut tercermin dalam strategi Vingroup melalui VinFast di sektor kendaraan listrik dan Vinhomes di bidang pengembangan properti. Keduanya mengembangkan ekosistem yang menghubungkan mobilitas, infrastruktur, dan kawasan perkotaan.
VinFast Perkuat Ekosistem Kendaraan Listrik
Menurut Josua, daya tarik kendaraan listrik tidak hanya ditentukan harga, tetapi juga kemudahan pengisian daya, akses pembiayaan, serta kepastian layanan purnajual.
Integrasi berbagai layanan tersebut dinilai dapat meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus mendorong pertumbuhan pasar. Penggunaan kendaraan listrik untuk armada transportasi juga berpotensi menciptakan permintaan yang lebih konsisten bagi infrastruktur pendukung.
Di Indonesia, investasi perakitan VinFast di Subang dirancang memiliki kapasitas awal 50.000 kendaraan per tahun. Pengembangan produksi lokal ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat kehadiran pasar sekaligus mendukung pengembangan industri otomotif nasional.
Sementara itu, di Filipina, presentasi grup pada kuartal II 2026 menyebut sekitar 18.500 kendaraan direncanakan untuk digunakan oleh 75 perusahaan transportasi. Angka tersebut merupakan rencana penggunaan, bukan jumlah kendaraan yang dipastikan telah beroperasi.
Vinhomes Integrasikan Kota dan Keberlanjutan
Pendekatan keberlanjutan juga diterapkan Vinhomes melalui pengembangan kawasan perkotaan terintegrasi. Salah satunya Vinhomes Green Paradise, proyek seluas 2.870 hektare di dekat Ho Chi Minh City, Vietnam, yang berbatasan dengan kawasan Cần Giờ Mangrove Biosphere Reserve.
Pada Agustus 2026, proyek tersebut memperoleh Interim Custom ISO 37122 Smart City Certification dari World Council on City Data. Sertifikasi sementara ini berlaku untuk tahap perencanaan, desain, dan konstruksi, sehingga belum menjadi bukti kinerja lingkungan setelah kawasan beroperasi.
Vinhomes juga merencanakan Forest Regeneration and Climate Adaptation Fund untuk mendukung riset, restorasi, dan ketahanan iklim, termasuk pemulihan ekosistem bakau di sekitarnya.
Proyek lainnya, Vinhomes Global Gate Ha Long, mengedepankan konektivitas transportasi. Kawasan ini direncanakan terhubung dengan jalur kereta berkecepatan tinggi Hanoi–Quang Ninh, yang pembangunannya dimulai pada April 2026 dan ditargetkan selesai pada akhir 2028.
Keberlanjutan Perlu Hasil Terukur
Josua menilai, investasi swasta dapat berperan penting dalam mempercepat transisi hijau melalui koordinasi modal, infrastruktur, dan layanan yang saling mendukung.
Namun, keberhasilan pendekatan tersebut tetap bergantung pada pelaksanaan, keterjangkauan layanan, serta transparansi data. Pengurangan emisi, peningkatan penggunaan kendaraan listrik, dan perbaikan kondisi lingkungan perlu dibuktikan melalui indikator yang terukur.
Dengan dukungan kebijakan publik yang jelas dan investasi jangka panjang, transisi hijau berpeluang menjadi strategi pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Asia Tenggara.



