Wakil Menteri ESDM Tinjau PLTA Batang Toru

beritaKUH- Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, Yuliot lakukan kunjungan kerja ke Proyek Strategis Nasional (PSN) PLTA Batang Toru berkapasitas 510 MW di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah mendorong percepatan penyelesaian proyek energi baru terbarukan yang diharapkan dapat memperkuat keandalan sistem kelistrikan Sumatera.

Wakil Menteri ESDM beserta jajaran meninjau sejumlah fasilitas utama proyek, meliputi area bendungan (dam), jalur transmisi, lahan Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH), serta powerhouse.

Wakil Menteri ESDM beserta jajaran meninjau sejumlah fasilitas utama proyek, meliputi area bendungan (dam), jalur transmisi, lahan Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH), serta powerhouse.

Kegiatan diawali dengan sambutan Presiden Direktur PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), dilanjutkan pemaparan perkembangan proyek, arahan Wakil Menteri ESDM, serta diskusi bersama mengenai proyek tersebut.

Presiden Direktur PT North Sumatera Hydro Energy, Li Xinlu, menyampaikan, “Kami menyampaikan terima kasih kepada Kementerian ESDM atas perhatian dan dukungan berkelanjutan terhadap proyek ini, termasuk melalui fasilitasi berbagai forum koordinasi lintas instansi yang membantu seluruh pihak mendiskusikan berbagai tantangan serta mencari solusi bersama.”

PLTA Batang Toru akan berperan penting dalam memperkuat keandalan sistem kelistrikan Sumatera dan mendukung pengembangan energi terbarukan di Indonesia.

“Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya percepatan penyediaan dan peningkatan keandalan energi secara nasional. Kondisi penyediaan tenaga listrik di Sumatera saat ini memerlukan penguatan melalui percepatan penyelesaian proyek-proyek pembangkit, salah satunya PLTA Batang Toru 510 MW. Dengan keterbatasan ketersediaan energi primer lainnya, kehadiran PLTA Batang Toru yang siap on-grid akan menjadi bagian penting dalam memperkuat pasokan listrik di sistem Sumatera,” ujar Yuliot, Wakil Menteri ESDM.

Hingga Juli 2026, progres fisik proyek telah mencapai 89,49 persen. Capaian tersebut kembali ke posisi yang sama seperti pada akhir November 2025, sebelum bencana banjir dan longsor November 2025 lalu.

Bencana tersebut menyebabkan kerusakan pada fasilitas transmisi, infrastruktur pendukung bendungan, powerhouse, serta akses jalan menuju lokasi proyek.

Kondisi itu membuat pelaksanaan konstruksi sempat mengalami penundaan.

Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kejadian tersebut merupakan peristiwa cuaca ekstrem nonrutin dengan periode ulang lebih dari 200 tahun.

Dalam kurun waktu sekitar delapan bulan pascabencana, NSHE melakukan pemulihan sehingga progres proyek kembali ke posisi sebelum bencana.

Bendungan telah siap memasuki tahap initial impounding, sedangkan commissioning powerhouse berjalan sesuai rencana.

Selain itu, pengujian switchyard telah selesai 100 persen. Pemulihan jalur transmisi juga terus berlangsung sesuai target.

Manajemen NSHE menyampaikan bahwa pencapaian target Commercial Operation Date (COD) pada 2026 masih memerlukan dukungan dan sinergi berbagai kementerian dan lembaga. Dukungan terutama dibutuhkan untuk mempercepat penyelesaian perizinan serta administrasi hukum yang menjadi prasyarat pelaksanaan tahap impounding.

“Kami membutuhkan dukungan dari seluruh kementerian/lembaga, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, serta koordinasi antara PT PLN dan anak perusahaannya agar setiap kendala dapat diselesaikan bersama demi mendukung penguatan bauran energi nasional,” ujar Yuliot.

Presiden Direktur PT NSHE Li Xinlu mengapresiasi perhatian dan dukungan Kementerian ESDM dalam mendorong percepatan pembangunan proyek, termasuk melalui forum koordinasi lintas instansi.

NSHE juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian ESDM, khususnya Wakil Menteri ESDM beserta jajaran, atas dukungan dalam mempercepat penyelesaian Right of Way (ROW) jalur transmisi dan koordinasi lintas kementerian terkait proses perizinan.

Dukungan tersebut dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong penyelesaian proyek menuju tahap operasi komersial.

Selain memulihkan infrastruktur proyek, NSHE turut berpartisipasi dalam penanganan darurat bencana di Kabupaten Tapanuli Selatan.

Kegiatan meliputi pemulihan akses jalan nasional dan provinsi, distribusi bantuan logistik ke 16 lokasi atau desa, serta penyediaan air bersih bagi sekitar 200 kepala keluarga.

NSHE juga melakukan pemulihan terhadap sejumlah fasilitas pendidikan dan rumah ibadah yang terdampak bencana.

Dalam kunjungan tersebut, Yuliot kembali menegaskan komitmen pemerintah untuk mengawal penyelesaian proyek-proyek energi strategis nasional.

PLTA Batang Toru memiliki kapasitas terpasang sebesar 510 MW dan diproyeksikan menghasilkan energi listrik sebanyak 2.124,03 GWh per tahun.

Proyek tersebut diarahkan untuk memperkuat sistem kelistrikan Sumatera sekaligus mendukung pencapaian target bauran energi baru terbarukan Indonesia.