beritaKUH- Di tengah risiko kecelakaan kerja hingga ancaman kebakaran dan paparan asap karhutla, penerapan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) justru menjadi bagian penting untuk menjaga kelangsungan operasional industri.
Perusahaan tidak hanya perlu mengantisipasi risiko kecelakaan dalam aktivitas operasional, tetapi juga kebakaran, pengendalian asap, perlindungan pernapasan, hingga kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat.
PT Wahana Safety Indonesia (WSI) menilai efisiensi dan keselamatan seharusnya tidak ditempatkan sebagai dua hal yang berseberangan. Penerapan K3 yang tepat justru dapat mendukung produktivitas sekaligus menjaga keberlangsungan operasional.

“Di tengah tuntutan produktivitas dan efisiensi, keselamatan harus tetap menjadi prioritas. Risiko yang dihadapi industri juga terus berkembang, termasuk risiko kebakaran dan paparan asap. Karena itu, perusahaan perlu melihat kebutuhan keselamatan secara lebih menyeluruh sesuai dengan kondisi operasionalnya,” ujar Sales & Marketing Director PT Wahana Safety Indonesia, Fransiscus B. Hermanto.
WSI Dorong Pendekatan Keselamatan Berbasis Risiko
Pandangan tersebut dibawa WSI dalam partisipasinya di GIFA Indonesia 2026, bagian dari Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series – Engineering Week 2026 yang berlangsung 9–12 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
WSI memanfaatkan ajang tersebut bukan sekadar untuk memperkenalkan produk, tetapi juga berdiskusi langsung dengan pelaku industri mengenai berbagai tantangan keselamatan di lapangan.
Berbekal pengalaman lebih dari dua dekade, WSI menghadirkan solusi keselamatan yang mencakup head protection, respiratory protection, eye and face protection, hand protection, protective apparel, safety footwear, fall protection, gas detection, hingga fire safety.

Seiring meningkatnya perhatian terhadap risiko kebakaran dan paparan asap, WSI juga memperkuat portofolio fire safety melalui produk terbaru Allsafe FireGuard.
Dalam menghadirkan solusi tersebut, WSI didukung principal dan mitra global, di antaranya Rosenbauer untuk solusi fire safety serta Sundström Safety untuk respiratory protection.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya WSI menghadirkan solusi keselamatan yang relevan dengan kebutuhan industri dan ditopang pengalaman serta teknologi global.
WSI menilai kebutuhan keselamatan tidak bisa hanya dilihat dari sisi produk. Setiap lingkungan kerja memiliki karakter risiko berbeda sehingga solusi perlindungan perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan, potensi bahaya, dan kebutuhan operasional perusahaan.
Frans menekankan pentingnya perubahan cara pandang dalam menentukan perlindungan keselamatan.
“Kami ingin mengubah percakapan dari sekadar ‘produk apa yang dibutuhkan?’ menjadi ‘risiko apa yang sebenarnya perlu kita lindungi?’. Ketika risikonya dipahami dengan tepat, perusahaan dapat menentukan solusi perlindungan yang lebih relevan dengan kondisi operasionalnya,” kata Frans.
Melalui GIFA Indonesia 2026 yang merupakan bagian dari IEE Series 2026, WSI mendorong penerapan K3 sebagai bagian dari strategi bisnis untuk mendukung business continuity, operational reliability, dan produktivitas.
Di tengah tuntutan industri untuk terus tumbuh dan semakin efisien, WSI menegaskan bahwa keselamatan dan produktivitas harus berjalan beriringan.



