beritaKUH- PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) terus mempercepat integrasi antarmoda sekaligus elektrifikasi armada untuk mewujudkan transportasi publik Jakarta yang lebih terhubung, aman, andal, dan ramah lingkungan.
Direktur Operasional dan Keselamatan Transjakarta, Mohamad Deddy Gamawan (Dega), mengatakan pengembangan layanan tidak hanya diarahkan untuk memperluas jangkauan, tetapi juga memastikan perjalanan masyarakat semakin mudah melalui konektivitas antarmoda.

Hal itu disampaikan Dega dalam Teras Urban Talkshow bertajuk “Advancing Sustainable Urban Mobility: Menelaah Peran BRT dan Non-BRT dalam Mendorong Mobilitas Perkotaan Berkelanjutan” di University Club Jakarta, Minggu (30/8).
“Transjakarta terus berupaya menghadirkan layanan yang mampu menjangkau lebih banyak wilayah sekaligus mempermudah perjalanan masyarakat melalui integrasi antarmoda,” ujar Dega.
Saat ini, cakupan layanan Transjakarta telah mencapai 92 persen wilayah DKI Jakarta dengan total 240 rute yang terdiri dari layanan BRT, feeder, Mikrotrans, Transjabodetabek, bus ke hunian rusun, Royaltrans, hingga layanan khusus.
Integrasi juga diperkuat di sejumlah simpul transportasi, termasuk Stasiun MRT Jakarta di Bundaran HI, ASEAN, dan Lebak Bulus, serta sejumlah stasiun LRT Jabodebek seperti Setia Budi, Rasuna Said, Cikoko, Cawang, Ciliwung, dan Kuningan.
Tak hanya konektivitas rute dan fisik, Transjakarta juga menerapkan integrasi tarif lintas moda dengan plafon maksimal Rp10.000 untuk perjalanan hingga 180 menit.
Kejar Target Transportasi Bebas Emisi
Di sisi lain, Transjakarta mempercepat elektrifikasi armada untuk mendukung target Pemprov DKI Jakarta menghadirkan 50 persen angkutan umum bebas polusi pada 2027 dan 100 persen pada 2030.
Strateginya dilakukan melalui peremajaan armada, pengadaan bus listrik baru, hingga program retrofit. Transjakarta menargetkan 96 persen kontrak operator eksisting telah menggunakan kendaraan listrik pada 2030.
Hingga kini, sebanyak 500 unit bus listrik telah beroperasi di seluruh jaringan Transjakarta.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Transjakarta membangun ekosistem transportasi perkotaan yang tidak hanya terintegrasi dan terjangkau, tetapi juga semakin rendah emisi dan berkelanjutan.



